Posted by: eswee | April 14, 2008

Yang terakhir

Pagi tadi aku menyempatkan menanyakan anak-anakku seperti apa belajar yang berhasil buat mereka. Dari jawaban-jawaban anak-anakku kelas XII IPS 3, mereka bisa menyimpulkan kalau belajar baru berhasil apabila dari yang awalnya tidak tau menjadi tau, dari tidak mengerti jadi mengerti, dari tidak bisa menjadi bisa. Menurut mereka cara menjadi tau, mengerti dan bisa itu dapat dicapai dengan cara membaca, memahami konsep dan melatih kemampuan.

Kemudian kutanya lagi. Sudahkah semua itu kalian lakukan?. Mereka senyum-senyum, saling pandang, kemudian ada yang menjawab dengan tersenyum saja ada yang hanya menggelengkan kepala, ada yang mulutnya komat kamit tidak jelas apa yang diucapkan, ada yang bicara nyaris seperti berbisik, ada yang berkata dengan lantang. “Sudah, Ma’am” Joko, anakku yang selalu vokal dan suka becanda mengacungkan tangannya menandakan masih ada yang dia ingin utarakan. “Saya sudah melakukannya ma’am, tapi jujur, kalo bahasa inggris saya tidak ma’am. Sulit, saya tidak mengerti. Maaf ya ma’am.”

Aku pengen tersenyum mendengar kejujurannya, tapi aku sengaja pasang muka terkejut. “Lho? jadi yang selama ini kalo kamu mengerjakan dan mengumpulkan tugas itu hasil dari mana?” Aku pura-pura bingung. “kan kamu selalu rajin ngerjakan tugas latihan2. Kok bisa?”

Joko senyum-senyum sambil melirik ke teman-temannya. Digaruknya kepalanya sambil berucap dengan agak pelan, “Nyontek,” ujarnya malu-malu.

Aku memandangi anak-anakku yang lain satu persatu, “Kalo yang lainnya?”

“Sama..sama..nyontek juga,” jawab seisi kelas bersahutan.

“Astaghfirullah” aku mengurut dada. Jadi nasehatku tiap hari tidak pernah dipakai oleh muridku. Jadilah aku memutar kembali kaset lama berisi wejangan untuk membiasakan berusaha sendiri, jangan mengharapkan kerjaan orang lain..bla..bla..bla.. Kubuat suaranya memelas dengan harapan mereka kasihan denganku dan mau berubah. Mereka semua terdiam..menundukkan kepala…tunduk..sampai kepala mereka menyentuh meja.

“Hallo..hallo..wah jadi pada tidur ya?”

“Enggak ma’am. Kami meresapi kata-kata ma’am” seperti biasa Joko selalu bertindak sebagai jubir dikelasnya.

“Ma’am mohon kalian lebih banyak meminta kepada Allah. Kalian tidak perlu menyontek. Buktinya udah 3 tahun menyontek apakah itu bisa membuat kalian pintar atau lebih pintar? Lebih pintar menyontek mungkin iya.”

Joko mengangkat wajahnya. “Iya ma’am tidak lagi”, aku gembira..wah berhasil juga bicara dengan intonasi memelas tadi. “Nanti UN itu yang terakhir” Gubrak!


Responses

  1. hidup nyonteeeeeeeeeek…
    yaa akibatnya si skripsi jg bsa nyontek,hehe. parah lagi bisa dibeli, tau betul apa ngga. sy cuma denger2,he2

    memang jadi guru harus banyak sabarnya ya….tapi sangat besar jasa dan pahalanya….bisa mengajarkan orang dan bermanfaat terus menerus….

    tapi bisa jadi bahaya kalo ngajarin yang jahat, kalo dikerjakan dia dan teman2nya kita juga ikut menanggung perbuatan mereka…

    oooooh guru…..
    pahlawan tanda jasa <= kayak lagu waktu SD yaa:D, salam

    Iya mas hafidzi, saya gak cuma denger tapi baca di internet, pas browsing eh nemu site yang iklanin jual skripsi, semua ada tinggal uangnya aja. Ehmm..banyak yang beli gak ya?

  2. Wah, baru pertama buka tulisan bu eswee sy jadi ketagihan deh.. asyik juga tuh!. O ya, gak bisa dipungkiri jadi guru mesti punya stok kesabaran yang luar biasa ya bu…apalagi jd gr bahasa inggris, masih lumayan kalo di perkotaan lah kalo di pedesaan kaya teman2 gr laen…aduh bahasa sendiri (baca b Indonesia) aja susah apalagi bhs asing. Ya deh, selain sabar stok motivasi juga mesti banyak ya bu…


Leave a response

Your response:

Categories